Surat Al-Infithaar
1. Langit terbelah dua. Langit lapis demi lapis akan terbelah, dan para malaikat akan turun dari tangga belahan langit itu. Ketika langit membuka/membelah sampai lapirs ketujuh, kemudian ada delapan malaikat yang membawa singgasana Allah. Malaikat yang membawa sangat besar, jarak antara telinga dengan lehernya sampai 600 tahun.
2. Bintang-bintang akan berjatuhan. Karena saat itu malaikat dibebastugaskan oleh Allah dari tugasnya menjaga bintang tetap pada tempatnya selama ini, sehingga akhirnya bintang berjatuhan.
3. Lautan akan diluapkan seperti tsunami,manusia speeti ikan.
4. Kuburan akan dibongkar. Bukan dibongkar oleh orang, tapi terbongkar karena gempa yang menguncang.
5. Setiap diri akan menyadari apa yang telah dilakukan dan apa yang dilalaikan.
6. Allah bertanya apa yang membuat kita terperdaya padahal Allah sudah menciptakan kita, dengan seimbang.
Api neraka datang dari berbagai sisi, yaitu sisi kanan, kiri, dan melilit.
Penyebabnya kalau dari sisi kanan adalah amarah, dari sisi kiri adalah hawa nafsu, dan dari tengah adalah otak/bisikan syaitan.
Menahan amarah itu lebih baik. Menahan bukan berarti mengalihkan amarah, atau memendam amarah, tapi memang harus ridha/ikhlas.
Ada cerita tentang Umar bin Abdul Aziz, saat itu beliau memakai baju yang bagus dan wangi. Tiba-tiba budaknya menabrak sehingga sayur yang dibawa sang budak menumpahi baju Umar bin Abdul Aziz. Umar saat itu hendak marah. Sang budak lalu membacakan ayat Al-Quran yang menyampaikan tentang surga seluas langit dan bumi disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang yang menafkahkah harta di kala lapang dan sempit, yang menahan amarah dan mau memaafkan. Akhirnya sang budak dimaafkan dan dimerdekakan oleh Umar.
Nafsu itu ada tiga jenisnya.
Yang pertama, ruh kosong diisi dengan zikir, maka akan menjadi jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah). Ketika berzikir, dan terjadi apapun dalam hidup, maka hati akan tenang karena semuanya dikembalikan kepada Allah. Misalnya ketika melihat teman sejawat yang lebih junior dipromosikan, maka tidak aka nada rasa iri, karena keyakinan bahwa rizki sudah diatur oleh dan pasti seijin Allah. Ketika melihat suami/istri teman yang lebih cakep, tidak akan iri, karena yakin bahwa jodoh sudah diatur oleh Allah, sudah ditulis di Lauhil Mahfuz.
Yang kedua, ruh kosong diisi 100% dengan akal, maka akan menjadi jiwa yang selalu menyesal (nafsul lawwamah). Ini karena Allah tidak diikutkan pada setiap pengambilan keputusan, hanya mendasarkan pertimbangan pada akal. Misalnya ketika memilih jodoh hanya karena faktor kekayaan yang dimiliki calon pasangan saat itu, tidak ber-istikharah, bertanya kepada Allah mana pilihan yang terbaik. Tapi istikharah tidak dilakukan untuk sesuatu yang sifatnya wajib, misalnya memakai jilbab atau berhaji. Ya memang sudah wajib memakai jilbab, tidak perlu istikharah memilih pakai jilbab atau tidak.
Yang ketiga, ruh kosong diisi dengan hawa nafsu, maka akan menjadi jiwa yang mengajak pada kejahatan (amarah bis su’) bener gak ya nulisnya.
Jangan sampai kita menjadi jiwa yang seperti ini. Sangat disayangkan saat ini banyak sekali orang yang jiwanya cenderung pada kejahatan karena dia memperturutkan hawa nafsunya, akal apalagi zikirnya tidak jalan. Nafsu untuk memiliki pasangan lebih cantik/ganteng, nafsu untuk memiliki harta yang lebih dan lebih.
Aku tulis disini berdasarkan ingatanku. Karena terburu-buru aku tidak membawa kertas dan pulpen saat kajian tadi. Dan ustdzah-nya menyindir, orang besar selalu mencatat apa yang dia peroleh. Mencatat ilmu itu seperti menangkap hewan buruan dan mengikatnya. Hiks. Oke deh Bu, sekarang saya abadikan di blog nih. Kalau kajian lagi, semoga saya bisa mencatatnya di i-pad atau Samsung tab supaya langsung ter-upload ke blog saya hihihihi (maunyaaa….).