rullykurnia

Just another pensieve I need

Belitung pulau timah

di dekat pojokan perempatan, dekat hotel
Sudah lama aku terobsesi dengan pulau Belitung, tepatnya semenjak membaca setiap seri dari tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata. Belitung -kalo Andrea menyebut dengan Belitong-, di bayanganku adalah pulau yang indah, tapi rusak akibat kesemena-menaan manusia.

Bersama kita maju… terus…

Lihat…, coba lihat…,
sidebar yang sebelah kiri, di kategori bulan apa aku terakhir menulis..

Ya ampyuuuun, bulan Apriiiil…? Sekarang kan udah akhir Oktober…, 6 bulan dooong…
Huhuhuhuhu…, semakin malu-lah diriku pada teman seangkatan sang blogger dari Malang, yang bilang “irit nulisnya ya, sebulan cuman 3 biji”. Huhuhu.., malah sekarang bukan sebulan 3 biji, tapi 6 bulan aja belum ada satupun. Atau sama temen selantai (bukan sama-sama melantai loh), yang bilang “ayo posting ayo posting” huhuhuhuhu…
Memang, selewat bulan April lalu, adalah bulan-bulan yang cukup tidak menyenangkan. Load kerjaan yang cukup memusingkan, tekanan atasan, plus plus yang lainnya, membuat aku tak betah berada terlalu lama di depan komputer. Hmm, bukan tak betah di depan kompie sih, tapi merasa gak jenak kalau terlalu lama di ruangan.
Ketidaknyamanan ini membuat aku tertekan. Pada akhirnya aku sendiri merasa rugi. Kupikir, plis deh, ini hidupku sendiri, seharusnya totally, penuh harus kukendalikan dan kuatur sendiri. Kalau kenyamanan hidup tergantung dengan ada atau tidak adanya sesuatu atau seseorang, rugi banget kan, gak usah hidup aja sekalian hehehehehe (sori, ekstrim banget yak).
Setelah aku evaluasi, ini saatnya aku harus mengubah jalan pikirku. Aku harus nyaman, aku harus menikmati hidup, dengan ada atau tidak ada apapun itu. Kalau kata Dr. Alban, rapper kesukaanku jaman masih berseragam biru putih dulu, “let’s the beat go on”.
Let’s singing then….
Self confidence
Is the key to choose
Self confidence
Is the key to choose
Let the beat go on
Holding on
Getting strong
Let the beat go on

Kalau gak suka nge-rap, bisa pake lirik “lie to me” punya Bon Jovi, lagu-lagunya beberapa kuhapal. Jaman biru putih dulu memang lagi ababil, ABG labil wkwkwkwk…
……, but life’s a roller coaster ride
The ups and downs will make you scream sometimes
It’s hard believing that the thrill is gone
But we’ve got to go around again, so let’s hold on

Dua lirik lagu itu ngajarin satu hal yang sama, “KUATKAN DIRIMU DAN JALAN TERUS…!!!”

Tapi kalo gaya rock dan rap gak suka semua, ya marilah kita berdendang
“dimana… dimana… dimana…, kemana… kemana… Kemana…”
Pufffh, gak nyampe nyampe daah….

Kajian Quran Juz 30 (1)

Surat Al-Infithaar

1. Langit terbelah dua. Langit lapis demi lapis akan terbelah, dan para malaikat akan turun dari tangga belahan langit itu. Ketika langit membuka/membelah sampai lapirs ketujuh, kemudian ada delapan malaikat yang membawa singgasana Allah. Malaikat yang membawa sangat besar, jarak antara telinga dengan lehernya sampai 600 tahun.

2. Bintang-bintang akan berjatuhan. Karena saat itu malaikat dibebastugaskan oleh Allah dari tugasnya menjaga bintang tetap pada tempatnya selama ini, sehingga akhirnya bintang berjatuhan.

3. Lautan akan diluapkan seperti tsunami,manusia speeti ikan.

4. Kuburan akan dibongkar. Bukan dibongkar oleh orang, tapi terbongkar karena gempa yang menguncang.

5. Setiap diri akan menyadari apa yang telah dilakukan dan apa yang dilalaikan.

6. Allah bertanya apa yang membuat kita terperdaya padahal Allah sudah menciptakan kita, dengan seimbang.

Api neraka datang dari berbagai sisi, yaitu sisi kanan, kiri, dan melilit.

Penyebabnya kalau dari sisi kanan adalah amarah, dari sisi kiri adalah hawa nafsu, dan dari tengah adalah otak/bisikan syaitan.

Menahan amarah itu lebih baik. Menahan bukan berarti mengalihkan amarah, atau memendam amarah, tapi memang harus ridha/ikhlas.

Ada cerita tentang Umar bin Abdul Aziz, saat itu beliau memakai baju yang bagus dan wangi. Tiba-tiba budaknya menabrak sehingga sayur yang dibawa sang budak menumpahi baju Umar bin Abdul Aziz. Umar saat itu hendak marah. Sang budak lalu membacakan ayat Al-Quran yang menyampaikan tentang surga seluas langit dan bumi disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang yang menafkahkah harta di kala lapang dan sempit, yang menahan amarah dan mau memaafkan. Akhirnya sang budak dimaafkan dan dimerdekakan oleh Umar.

Nafsu itu ada tiga jenisnya.

Yang pertama, ruh kosong diisi dengan zikir, maka akan menjadi jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah). Ketika berzikir, dan terjadi apapun dalam hidup, maka hati akan tenang karena semuanya dikembalikan kepada Allah. Misalnya ketika melihat teman sejawat yang lebih junior dipromosikan, maka tidak aka nada rasa iri, karena keyakinan bahwa rizki sudah diatur oleh dan pasti seijin Allah. Ketika melihat suami/istri teman yang lebih cakep, tidak akan iri, karena yakin bahwa jodoh sudah diatur oleh Allah, sudah ditulis di Lauhil Mahfuz.

Yang kedua, ruh kosong diisi 100% dengan akal, maka akan menjadi jiwa yang selalu menyesal (nafsul lawwamah). Ini karena Allah tidak diikutkan pada setiap pengambilan keputusan, hanya mendasarkan pertimbangan pada akal. Misalnya ketika memilih jodoh hanya karena faktor kekayaan yang dimiliki calon pasangan saat itu, tidak ber-istikharah, bertanya kepada Allah mana pilihan yang terbaik. Tapi istikharah tidak dilakukan untuk sesuatu yang sifatnya wajib, misalnya memakai jilbab atau berhaji. Ya memang sudah wajib memakai jilbab, tidak perlu istikharah memilih pakai jilbab atau tidak.

Yang ketiga, ruh kosong diisi dengan hawa nafsu, maka akan menjadi jiwa yang mengajak pada kejahatan (amarah bis su’)  bener gak ya nulisnya.

Jangan sampai kita menjadi jiwa yang seperti ini. Sangat disayangkan saat ini banyak sekali orang yang jiwanya cenderung pada kejahatan karena dia memperturutkan hawa nafsunya, akal apalagi zikirnya tidak jalan. Nafsu untuk memiliki pasangan lebih cantik/ganteng, nafsu untuk memiliki harta yang lebih dan lebih.

Aku tulis disini berdasarkan ingatanku. Karena terburu-buru aku tidak membawa kertas dan pulpen saat kajian tadi. Dan ustdzah-nya menyindir, orang besar selalu mencatat apa yang dia peroleh. Mencatat ilmu itu seperti menangkap hewan buruan dan mengikatnya. Hiks. Oke deh Bu, sekarang saya abadikan di blog nih. Kalau kajian lagi, semoga saya bisa mencatatnya di i-pad atau Samsung tab supaya langsung ter-upload ke blog saya hihihihi (maunyaaa….).

Istilah keren

Beberapa hari lalu aku terdampar di ruang rapat sebuah hotel bintang empat di dekat kantor. Ada tugas kantor yang harus dibahas dan diselesaikan di situ. Ada beberapa orang dari unit lain yang diundang.

Karena acara pembahasan baru mulai malam hari, dan seharian aku sudah kecapekan, saat pembahasan aku nggak bisa konsentrasi. Apa yang dibicarakan di forum sama sekali gak bisa kupahami, rasanya buntu sekali, ngantuk dan lelah luar biasa.

Untuk mengusir ngantuk, akhirnya aku mengajak teman sebelah kursiku untuk ngobrol. Awalnya kami menertawai diri kami sendiri yang merasa asing dengan berbagai istilah yang disampaikan oleh peserta rapat. Lalu aku bertanya kepada teman obrolku, apakah beliau sudah membaca buku Laskar Pelangi. Dia jawab belum. Lalu kuceritakan salah satu fragmen di Laskar Pelangi, dimana si Ikal menceritakan tentang masyarakat kampungnya di Belitong yang takjub dengan istilah-istilah baru dari pejabat atau mahasiswa yang berceramah. beberapa masyarakat akan menghitung berapa banyak istilah yang tak dia pahami, dan di akhir pidato, mereka akan membandingkan berapa banyak yang mereka hitung.

Teman obrolku lalu mengambil kertas dan pensil. Dia membuat dua tabel untuk dua pembicara di rapat yang sedang kuikuti. Lalu kami terkikik-kikik di belakang, menuliskan istilah yang nginggris, yang aneh atau keren menurut kami. Ada istilah in-line, drill, smoothing, align, elaborate, performance, resolve, compact, user, launching, dan sebagainya.

Sebenarnya istilah-istilah semacam itu sudah ada padanannya di bahasa Indonesia. Namun ada beberapa motif penggunaan istilah asing itu. Ada yang memang menggunakannya untuk lebih memperjelas maksud yang dia sampaikan, kekhawatiran apabila padanan bahasa Indonesia yang digunakan malah akan membuat rancu atau bias maksudnya.

Tapi ada juga yang menggunakannya karena kebiasaan, ya karena sudah biasa dengan kata itu. Ada juga yang supaya dianggap keren, terpandang, modern, aahh, melangit rasanya ketika mengucapkan istilah asing dengan pronounce yang mendayu hahaha…

Lalu bagaimana dengan pidato para petinggi atau pejabat yang sering menggunakan istilah keren itu…., apa niat mereka ya?

Rasa yang Bercampur

Menyebalkan sekali kalau dalam kondisi terburu-buru harus pulang dari kantor, karena merasa bersalah kepada anak yang ditinggalkan seharian di rumah. Terburu-buru karena boss masih memberikan perintah, sedangkan jam pulang sudah sangat mepet. Terburu-buru karena anak sulung sudah berpesan agar si bunda pulang cepat, tidak pulang dini hari seperti hari-hari sebelumnya…

Terbayang kan bagaimana suasana hati si bunda? Grusa grusu, bingung karena pekerjaan belum selesai, sebel karena suami belum jemput, kesel karena boss meminta supaya tetap tinggal untuk lembur, sedih karena tidak bisa menuruti keinginan anak yang sederhana. Keinginan untuk melihat bundanya sudah di rumah saat adzan isya tiba, walaupun mungkin saat itu si anak juga tidak diajak bermain atau mengobrol, bahkan bundanya sudah teler banget, karena sudah berhari-hari tidurnya kurang. Hmm…, terbayangkah perasaannya yang nano-nano itu?

** Gabruk, itu gue banget versi dramatisasi wkwkwkwk… What about U?**

Dan setelah mengambil napas dalam dan panjang…, mengemasi tas dan cooler bag, kabur dari pandangan boss, cemberut kepada suami yang tidak segera datang menjemput, berlalulah aku naik motor membonceng suami menuju ke rumah. Baru saja aku berlalu, perasaan yang nano-nano tadi tiba-tiba berbalik menjadi perasaan nano-nano yang rasanya lain… (Lah, kalau udah nano-nano bukannya cuman satu rasa yak? Wkwkwk…).

Kalau tadi perasaan kesal dan sebal mendominasi, sekarang ganti perasaan sedih, terenyuh, kasihan, dan apatis bercampur menjadi satu.

Itulah perasaanku ketika tiap sore melewati jalan Veteran seberang Stasiun Juanda, jalan depan/samping Masjid Istiqlal.

Ketika hari hujan, maka hatiku pun terasa gerimis dan seperti tertusuk-tusuk…

Di bawah fly over rel kereta, di depan masjid Istiqlal, hampir setiap sore aku melihat ibu-ibu menggendong bayi atau anak balita menawarkan jasa joki three in one. Ketika gerimis atau angin kencang, ada beberapa ibu yang bertahan menawarkan jasanya dan tidak berteduh, padahal dia menggendong bayi yang masih rapuh. Waaaaaaaah, aku keseeeeel sama si ibu, aku sediiiih sama keadaan miskin yang memaksa si ibu itu, aku kasihaaan sama si bayi, aku putus asaaa dengan keadaan negeri yang jadi tambah parah ini. Aku terenyuh. Aku ingin turun dari motor, memberikan dekapan dan selimut untuk menghangatkan bayi-bayi kecil itu. Tapi suamiku terus melaju karena bibirku kelu, karena hanya air mata yang terus menerus keluar tanpa ada tindakan.

Dan aku takut, Allah akan mengazabku di hari pembalasan nanti, aku takut dengan perhitungan Allah di Yaumil Hisab nanti. Jangan-jangan karena aku bagian dari pemerintah negeri ini, karena aku bagian dari sistem, aku mendapat bagian dosa karena telah membiarkan kemiskinan terjadi, sehingga banyak rakyat yang harus bersusah payah mencari uang dengan bahkan mengorbankan buah hatinya kehujanan, kepanasan, terkena angin, disewa oleh orang lain yang menjadi joki. Tugas khadimatul ummah untuk menjadi pengayom rakyatnya.

Semoga Allah mengampuni ketidaksanggupanku mengemban amanah ini. Semoga Allah mengampuniku yang masih mengharapkan uang honor, uang ini itu yang menggerogoti apa yang seharusnya jadi hak rakyat yang lebih membutuhkan. Astaghfirullah…

Dan lalu aku teringat anakku di rumah. Dan aku teringat bagaimana aku memarahi, membentaknya. Maafkan bundamu ini ya sayang. Semoga Allah memberikan keluasan ilmu dan kelapangan hati untuk membantumu menjadi manusia seutuhnya. Semoga di saat dan jamanmu nanti, akan hadir manusia seperti Umar bin Khattab atau Umar bin Abdul Aziz. Semoga engkau menjadi salah satu pasukannya. Aamiin…

** yang ini gak dramatisasi, full mewek, sedih sekaligus kesel pada diri sendiri. Semoga membawa perubahan yang lebih baik lagi**

Menulis Apa

Hari ini, satu sahabatku mengingatkan, “ayo, tulisan barunya..”

Ups, aku jadi ingat, begitu banyak ide yang ingin kutulis di blog ini, yang ingin ku-share melalui pensieve pribadiku ini. Bahkan sepanjang jalan menuju ke kantor tadi aku menelurkan dua ide, termasuk kata-kata apa yang akan kususun.

Mumpung sore ini aku longgar, aku coba duduk manis di depan kompie kantorku. Setelah merapikan berkas yang sebulan lebih berserakan di meja dan kursi, lalu mengerjakan disposisi si bos, mulailah aku mencoba menulis.

Lalu…

Eh, lha kok aku bingung mau menulis apa.

Beneran binguuung.. Lupa… Gak ingat sama sekali ide-ide apa yang akan kutulis. Duuuh…

Jadi ya, supaya hari ini tetap ada tulisan terbit, aku menulis ini.. Hehehe..

So, apa tips supaya tetap dapat mengingat ide, alur cerita yang hendak ditulis? Nulis di HP? Walah, kelamaan ngetiknya kalau di HP. Keburu nyut-nyutan jempolku…

Tahta (part 1)

Ada quote bahwa manusia akan banyak diganggu oleh harta, tahta, dan wanita (lha kalau wanita diganggu ma siapa dong…). Salah satu temanku bilang, bahwa tahta adalah yang paling kuat, karena dengan tahta orang bisa mendapatkan wanita dan juga harta. Ya walaupun menurutku, dengan harta pun orang juga bisa mendapatkan tahta dan juga wanita :)

Dua cerita yang ingin kubagi disini.

Cerita pertama. Tentang para perokok di ruangan kerjaku. Sudah lama sekali banyak (lebih dari dua orang) yang berani merokok di ruanganku, yang notabene ruangan tertutup, ber-AC, dan penuh berkas. Kata tertutup disini artinya, hanya pintu ruangan yang terbuka, selebihnya seperti jendela tak terbuka sedikitpun. Ohya, pintu yang terbuka pun menghadap ke lorong, bukan langsung terbuka ke halaman atau lobi.

Beberapa kali aku sudah menyatakan keberatan dengan merokoknya mereka di ruangan ini. Bagiku terserah kalau mereka lebih suka merokok daripada membelikan anaknya mainan edukatif, atau lebih suka merokok sekarang daripada hidup sehat di masa tua nanti. Yang penting mereka tidak merokok di ruangan. Keberatanku sudah kusampaikan secara vulgar maupun lewat isyarat atau sindiran. Beberapa orang yang selevel denganku (sama-sama staf) terkadang mengalah, merokok di ruangan lain. Tapi beberapa orang yang lebih tinggi jabatannya atau lebih senior, tetap merokok di depan komputer mereka, di ruangan ini!!!

Kebayang nggak, ada dua orang yang sedang enak-enaknya ngebul merokok sambil bekerja, sedang tiga orang menutup hidung saking sesaknya, dan ada 10 orang lebih tak sadar sedang menghisap racun yang berbahaya bagi tubuh mereka. Kebayang nggak, ketika ruangan seperti berkabut, karena ada tiga orang sedang mengasap… HUH!!!! Lima tahun, dan menginjak tahun keenam sekarang sudah aku mengalaminya. Dua kali kehamilan.

Inilah yang kumaksud dengan godaan tahta. Tahta atau jabatan, membuat orang merasa berkuasa, merasa bisa berbuat segalanya, dan semaunya. Karena tahta, power, kuasa.

Dan hanyalah Allah yang MAHA KUASA. MAHA BERKUASA atas segala sesuatunya…

Bersyukur dan Ekspektasi

Ada kejadian yang cukup menohok hati hari ini. Semoga dengan menuliskannya, aku bisa mengambil hikmah atas apa yang terjadi.

Dini hari tadi adalah pengumuman beasiswa untuk pegawai di tempatku. Ada salah seorang temanku yang apply beasiswa itu dan alhamdulillah dia ternyata lulus. Namun dia lulus untuk beasiswa universitas dalam negeri, sedangkan dia apply untuk beasiswa ke luar negeri.

Duh, kelihatan banget saat kami di ruangan menyelamati dan menyalaminya, dia tidak terlihat riang atau tersenyum gembira. Terlihat sekali kalau senyumnya dipaksakan dan belum dapat menerima. malah dari mulutnya berkali-kali terlontar ucapan, “mungkin ini yang terbaik, semoga ini yang terbaik.”

Aku dan salah satu teman kantorku yang lain jadi tertegun. Lah, bukannya berucap Alhamdulillah dan bersyukur dapat kesempatan sekolah lagi, ini kok malah belum nrimo..

Ternyata, eskpektasi, atau harapan yang terlalu tinggi, apalagi ketika melihat ada kesempatan harapan itu dapat terkabulkan, dapat menutup celah bersyukur ketika kenyataan ternyata melenceng dari harapan. Yah, walaupun melenceng hanya sedikit.

Ini cukup menamparku. Setelah beberapa waktu lalu, aku mempertanyakan dalam hati, kenapa kantor ini dapat take home pay lebih, sedangkan kantorku tidak. aku juga mempertanyakan kenapa si X dapat gaji lebih padahal sepenglihatanku kerjaanku lebih baik dari dia. Ini masalah ekspektasiku, harapanku dan keinginanku agar hasil kerjaku dihargai lebih. Dan aku tidak melihat apa yang dikaruniakan Allah kepadaku saat itu. Astaghfirullah…

Jadi, mari kita bersyukur hari ini :)

Penting & Segera

Wow…,

Ternyata sudah sebulan aku tak menulis di sini.

Sebenarnya sudah banyak yang ingin kutuliskan, tapi apa daya rasa malas bercokol dengan sempurnanya. Hahaha… (berasa pantun  a-a-a nih…)

Saat ini ada beberapa quote yang ingin kuabadikan di sini. Kalimat-kalimat bermakna ini kudapat dari hasil perenungan (saat insomnia tak bisa segera lelap dan malah terus terjaga), dari mendengarkan radio, atau dari hasil obrolan dengan kawan di ruangan.

Ini quotes-nya. Semoga bermanfaat untukku.

1.       Kerjakan yang HARUS dilakukan, bukan yang INGIN dilakukan.

# Ini susah, pas di kantor ada nota yang harus diselesaikan malah pikiranku melayang di Tanah Abang, Atrium dll. Padahal gak ada duit lho hehehe… Sifat konsumtif ini susah banget hilangnya.

2.       Kerjakan SEKARANG, tidak MENUNDA .

# Ini juga susah sah saah…. Ada surat yang harus segera dikonsep, kok aku malah browsing dan surfing di dunia maya. Padahal si Maya sudah selesai bikin nota tuh…

3.       Antara yang urgent/penting dan segera

-  Prioritas 1: mengerjakan yang segera dan bersifat penting

-  Prioritas berikut: mengerjakan yang penting namun tidak segera.

-  Dapat dikerjakan: yang tidak penting dan tidak segera

-  Tidak perlu: yang segera namun tidak penting.

Anda bingung? Apalagi saya…. Wkwkwkwk…

Gabruk deh…

Tapi terkadang kita perlu mengerjakan hal-hal tak penting dengan segera, untuk alasan kebaikan. Misalnya chatting, browsing, atau blogging hehehe… Mungkin aktivitas itu tidak penting, tapi jika mood kita sedang buruk, sedang bosan, atau kelelahan, adakalanya aktivitas itu perlu dikerjakan untuk menyegarkan diri dan ruhani.

Poin pokoknya adalah pengendalian diri. Jangan sampai dengan alasan refreshing, akhirnya chatting berjam-jam dan mengabaikan nota dinas yang harus segera diselesaikan.

Wah, sepertinya itu aku sendiri… Aduuuh….

berkorban

siang ini agendaku adalah membeli panci kecil bergagang untuk memasak bubur raka. Sudah beberapa kali aku survei ke beberapa hipermarket. Karena bingung, akhirnya aku hunting panci di Toko Melati, Pasar Baru.

Seperti biasa, ketika di Pasar Baru agenda wajibnya adalah mengunjungi Gramedia dan membeli combro :)

Percakapanku dengan ibu penjual combro:

Aku: Bu, combro-nya lima ribu dapat berapa?

Ibu: sepuluh.

Aku: Kalo gitu sepuluh ribu Bu.

Ibu –> mengambil kertas wadah gorengan dan mulai menghitung combro.

Aku: Bu, sekarang cabe hijau berapa?

Ibu: lima puluh ribu neng. Kalau biasanya dapet tiga kilo sekarang cuman dapet sekilo.

Aku: cabe di combronya dikurangin dong bu?

Ibu: nggak (menjawab tanpa senyum, dingin amat euyy…)

Setelah membeli combro, aku naik bajaj. Sepanjang jalan menuju kantor, aku berpikir, hmm kalo begitu, keuntungan si penjual tadi akan berkurang dengan asumsi omzet combro yang dijualnya stabil (halaaah, omzeeet wkwkwk…).

Si penjual combro saja mau berkorban, mengurangi margin keuntungan yang didapatnya asal harga combro tidak naik. Laah, bagaimana dengan para pejabat dan politisi yang saat ini berkuasa? Mau nggak ya mereka berkorban lebih dan lebih lagi, baik tenaga, materi, maupun waktu yang mereka punya demi kesejahteraan rakyat yang harus diayominya?

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.