rullykurnia

Just another pensieve I need

Setelah 17 bulan berlalu….

Woooowwww…. 17 bulan blogku gersang…
Hadeeeeeh…

Apakah itu artinya aku sudah tidak perlu pensieve lagi?
Tidak juga…
Hal-hal yang kukerjakan selama 17 bulan ini sudah luar biasa banyaknya…
Kalau keluar darah dari badan ini, mungkin sudah berdarah-darah sampai kering badan ini.
Apatah lagi air mata, sudah bertetes tetes yang keluar bersama peluh sampai tak terasa.

Aku tetap perlu pensieve. Satu wadah yang dalam cerita Harry Potter dapat digunakan untuk memutar kenangan, yang oleh Albus Dumbledore terkadang digunakan untuk me-refresh pikiran atau menautkan antar fakta agar dapat dirangkai kesimpulan dan kebenaran yang terjadi.

Hanya saja, waktu menjadi satu barang mewah bagiku. Waktu diperebutkan antar tugas di kantor, antara kantor dan keluarga, antara kepentingan orang lain dan “me time”.

Apakah aku lelah? Tentu…
Tapi apakah aku harus berhenti sampai di sini? Entahlah…

Hidup mati untuk apa

Karena sering mendengarkan lagunya dari CD gratisan KFC, akhirnya aku jadi tahu lagu-lagu Noah terbaru 🙂
Aku jadi tahu, ooh ternyata lagu yang sering dinyanyiin Desta dan Andre di OVJ adalah lagunya si ariel hehehe…
Ada lagu yang awalnya aku gak suka…, tapi setelah mendengarkan liriknya aku jadi sering terngiang-ngiang. Sebagian lirik lagu itu dapat menjadi bahan renungan.

Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu

Sering kita melakukan sesuatu mati-matian, demi apapun yang kita incar atau sesuatu yang kita takuti. Padahal bisa jadi itu semu adanya.Ketidaktepatan niat, adakalanya membawa kejenuhan, kemalasan, sampai bahkan kehancuran diri. Atau suatu niat yang dikejar selama hidup, padahal itu tak berguna setelah mati. Buat apa hidupnya kalau begitu?

Membingungkan ya… Iya memang, nulis inipun juga lagi kondisi stress hehehe…

Ada baiknya melihat satu hadits arba’in yang cukup terkenal, tapi tak banyak orang yang hapal hadits itu secara lengkap.

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Jadi, untuk apa hidup kita ini sekarang? Apa yang kita kejar selama ini? Bergunakah waktu yang kita habiskan?

Fokus pada outcome

Detik.com punya program baru, yaitu d’Preneur. Liputan acara ini dimasukkan ke artikel di detik finance, maupun di detik TV. Artikel yang sempat kubaca adalah tentang Sandiaga Uno.

Dalam satu artikel yang berjudul “Sandiaga Uno: Jadi Kaya Tak Ada Yang Instan”, diceritakan oleh Sandiaga Uno, bahwa mindset seorang pengusaha adalah tahan banting, jujur, bagaimana bisa bangkit dan berdiri. Sandiaga bilang, tidak ada orang yang kaya atau sukses secara tiba-tiba, bahwa seorang pengusaha sukses pasti merasakan jatuh dan bangun.

Aku teringat dengan salah satu materi pada training yang pernah aku jalani bulan lalu. Salah seorang fasilitatornya (dia tidak mau disebut guru atau trainer) mengatakan bahwa kita harus fokus pada outcome. Entah itu tujuan jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang kita. Dengan kita fokus pada outcome, maka seluruh daya kita akan terarah pada pencapaian outcome itu. Dan pada akhirnya mestakung. sepertinya semesta mendukung pencapaian tujuan kita.

Image

Pada saat mengarahkan seluruh upaya pada pencapaian outcome, tentu kita akan menemui banyak hambatan, banyak aral melintang. Hambatan dan segala masalah itu sedikit banyak akan menyerap energi kita, yang seharusnya bisa diarahkan untuk pencapaian tujuan. Entah saat itu kita akan bersedih hati, terluka, bahkan mungkin akan berlarut-larut kita mendramatisir persoalan itu, sampai akhirnya energi habis dan terlupa dengan upaya pencapaian tujuan kita.

Karena itu, kita harus berusaha keras, fokus pada outcome. Fokus pada outcome tidak berarti mengabaikan masalah yang menghadang, fokus pad outcome adalah bagaimana masalah yang terjadi kita handle dan kita atasi secara bijak, demi pencapaian outcome kita.

Aku tidak bilang bahwa upaya ini tidak susah, karena hidup ini adalah perjuangan. Maka mulai saat ini mari kita rumuskan apa outcome kita. Tak penting tujuan jangka pendek atau jangka panjang, yang aku katakan adalah tetaplah fokus pada tujuan.

Aku sudah membuktikannya.

 

 

Hampir setahun

Sekarang tanggal 7 November 2012, hari Rabu siang aku menulis.
Tulisan terakhirku adalah 23 November 2011, 11 bulan dan 14 hari yang lalu.
Hampir setahun lalu hihihi….

Kemane aje loe…

Ini adalah setahun yang berat. Tak bermaksud aku menyalahkan keadaan, selain memang aku yang sedang ditarbiyah Allah SWT untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Waktu 24 jam sehari rasanya kurang.

Pada waktu-waktu stressful itu, ada saat dimana aku menjadi lemah, menjadi merasa susah dan terhimpit, bagaikan hanya akulah orang yang paling menderita di dunia ini. Pada saat-saat tersebut, selain rehat sebagai obat, aku berusaha merefleksi diri, kembali pada tujuan semula. Dan kadang beberapa kalimat atau tulisan cukup membakar semangatku kembali.

Semoga dengan aku salin tulisan-tulisan pendek itu, semangatku menjadi lebih abadi, dan begitu juga kalian 😉

“Melakukan apa yang Anda cintai dan membuatnya profesional adalah jauh lebih baik ketimbang hanya sekedar bekerja untuk hidup.” (Terry Finley)

Kalimat di atas aku ambil dari artikel di detik.com.

“Berangkatlah, niscaya engkau akan mendapatkan ganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup direngkuh dalam kerja keras. Ketika air mengalir, ia akan menjadi jernih dan ketika berhenti, ia akan menjadi keruh. Sebagaimana anak panah, jika tak meninggalkan busurnya, tak akan mengenai sasaran. Biji emas yang belum diolah sama dengan debu di tempatnya. Maka, ketika orang berangkat dan bekerja, dia akan mulia seperti bernilainya emas.” (Imam Syafi’i)

Kata-kata Imam Syafi’i ini aku ambil dari Republika, kolom Resonansi.

Aku hanya orang biasa, yang bekerja untuk bangsa Indonesia, dengan cara Indonesia. Namun yang penting untuk kalian yakini, sesaatpun aku tak pernah mengkhianati tanah air dan bangsaku, lahir mapun batin. Aku tak pernah mengkorup kekayaan negara. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan langkah perjuanganku.(Ki Hajar Dewantara)

Kalimat Ki hajar Dewantara ini aku lupa mengambilnya dari mana si sumber tulisan berada.

“Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu” (salah satu tagline Indonesia Mengajar)

Yang ini juga, lupa 😀

Cemunguudh eaa cemuahnyaaa….

Belitung pulau timah

di dekat pojokan perempatan, dekat hotel
Sudah lama aku terobsesi dengan pulau Belitung, tepatnya semenjak membaca setiap seri dari tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata. Belitung -kalo Andrea menyebut dengan Belitong-, di bayanganku adalah pulau yang indah, tapi rusak akibat kesemena-menaan manusia.

Bersama kita maju… terus…

Lihat…, coba lihat…,
sidebar yang sebelah kiri, di kategori bulan apa aku terakhir menulis..

Ya ampyuuuun, bulan Apriiiil…? Sekarang kan udah akhir Oktober…, 6 bulan dooong…
Huhuhuhuhu…, semakin malu-lah diriku pada teman seangkatan sang blogger dari Malang, yang bilang “irit nulisnya ya, sebulan cuman 3 biji”. Huhuhu.., malah sekarang bukan sebulan 3 biji, tapi 6 bulan aja belum ada satupun. Atau sama temen selantai (bukan sama-sama melantai loh), yang bilang “ayo posting ayo posting” huhuhuhuhu…
Memang, selewat bulan April lalu, adalah bulan-bulan yang cukup tidak menyenangkan. Load kerjaan yang cukup memusingkan, tekanan atasan, plus plus yang lainnya, membuat aku tak betah berada terlalu lama di depan komputer. Hmm, bukan tak betah di depan kompie sih, tapi merasa gak jenak kalau terlalu lama di ruangan.
Ketidaknyamanan ini membuat aku tertekan. Pada akhirnya aku sendiri merasa rugi. Kupikir, plis deh, ini hidupku sendiri, seharusnya totally, penuh harus kukendalikan dan kuatur sendiri. Kalau kenyamanan hidup tergantung dengan ada atau tidak adanya sesuatu atau seseorang, rugi banget kan, gak usah hidup aja sekalian hehehehehe (sori, ekstrim banget yak).
Setelah aku evaluasi, ini saatnya aku harus mengubah jalan pikirku. Aku harus nyaman, aku harus menikmati hidup, dengan ada atau tidak ada apapun itu. Kalau kata Dr. Alban, rapper kesukaanku jaman masih berseragam biru putih dulu, “let’s the beat go on”.
Let’s singing then….
Self confidence
Is the key to choose
Self confidence
Is the key to choose
Let the beat go on
Holding on
Getting strong
Let the beat go on

Kalau gak suka nge-rap, bisa pake lirik “lie to me” punya Bon Jovi, lagu-lagunya beberapa kuhapal. Jaman biru putih dulu memang lagi ababil, ABG labil wkwkwkwk…
……, but life’s a roller coaster ride
The ups and downs will make you scream sometimes
It’s hard believing that the thrill is gone
But we’ve got to go around again, so let’s hold on

Dua lirik lagu itu ngajarin satu hal yang sama, “KUATKAN DIRIMU DAN JALAN TERUS…!!!”

Tapi kalo gaya rock dan rap gak suka semua, ya marilah kita berdendang
“dimana… dimana… dimana…, kemana… kemana… Kemana…”
Pufffh, gak nyampe nyampe daah….

Kajian Quran Juz 30 (1)

Surat Al-Infithaar

1. Langit terbelah dua. Langit lapis demi lapis akan terbelah, dan para malaikat akan turun dari tangga belahan langit itu. Ketika langit membuka/membelah sampai lapirs ketujuh, kemudian ada delapan malaikat yang membawa singgasana Allah. Malaikat yang membawa sangat besar, jarak antara telinga dengan lehernya sampai 600 tahun.

2. Bintang-bintang akan berjatuhan. Karena saat itu malaikat dibebastugaskan oleh Allah dari tugasnya menjaga bintang tetap pada tempatnya selama ini, sehingga akhirnya bintang berjatuhan.

3. Lautan akan diluapkan seperti tsunami,manusia speeti ikan.

4. Kuburan akan dibongkar. Bukan dibongkar oleh orang, tapi terbongkar karena gempa yang menguncang.

5. Setiap diri akan menyadari apa yang telah dilakukan dan apa yang dilalaikan.

6. Allah bertanya apa yang membuat kita terperdaya padahal Allah sudah menciptakan kita, dengan seimbang.

Api neraka datang dari berbagai sisi, yaitu sisi kanan, kiri, dan melilit.

Penyebabnya kalau dari sisi kanan adalah amarah, dari sisi kiri adalah hawa nafsu, dan dari tengah adalah otak/bisikan syaitan.

Menahan amarah itu lebih baik. Menahan bukan berarti mengalihkan amarah, atau memendam amarah, tapi memang harus ridha/ikhlas.

Ada cerita tentang Umar bin Abdul Aziz, saat itu beliau memakai baju yang bagus dan wangi. Tiba-tiba budaknya menabrak sehingga sayur yang dibawa sang budak menumpahi baju Umar bin Abdul Aziz. Umar saat itu hendak marah. Sang budak lalu membacakan ayat Al-Quran yang menyampaikan tentang surga seluas langit dan bumi disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang yang menafkahkah harta di kala lapang dan sempit, yang menahan amarah dan mau memaafkan. Akhirnya sang budak dimaafkan dan dimerdekakan oleh Umar.

Nafsu itu ada tiga jenisnya.

Yang pertama, ruh kosong diisi dengan zikir, maka akan menjadi jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah). Ketika berzikir, dan terjadi apapun dalam hidup, maka hati akan tenang karena semuanya dikembalikan kepada Allah. Misalnya ketika melihat teman sejawat yang lebih junior dipromosikan, maka tidak aka nada rasa iri, karena keyakinan bahwa rizki sudah diatur oleh dan pasti seijin Allah. Ketika melihat suami/istri teman yang lebih cakep, tidak akan iri, karena yakin bahwa jodoh sudah diatur oleh Allah, sudah ditulis di Lauhil Mahfuz.

Yang kedua, ruh kosong diisi 100% dengan akal, maka akan menjadi jiwa yang selalu menyesal (nafsul lawwamah). Ini karena Allah tidak diikutkan pada setiap pengambilan keputusan, hanya mendasarkan pertimbangan pada akal. Misalnya ketika memilih jodoh hanya karena faktor kekayaan yang dimiliki calon pasangan saat itu, tidak ber-istikharah, bertanya kepada Allah mana pilihan yang terbaik. Tapi istikharah tidak dilakukan untuk sesuatu yang sifatnya wajib, misalnya memakai jilbab atau berhaji. Ya memang sudah wajib memakai jilbab, tidak perlu istikharah memilih pakai jilbab atau tidak.

Yang ketiga, ruh kosong diisi dengan hawa nafsu, maka akan menjadi jiwa yang mengajak pada kejahatan (amarah bis su’)  bener gak ya nulisnya.

Jangan sampai kita menjadi jiwa yang seperti ini. Sangat disayangkan saat ini banyak sekali orang yang jiwanya cenderung pada kejahatan karena dia memperturutkan hawa nafsunya, akal apalagi zikirnya tidak jalan. Nafsu untuk memiliki pasangan lebih cantik/ganteng, nafsu untuk memiliki harta yang lebih dan lebih.

Aku tulis disini berdasarkan ingatanku. Karena terburu-buru aku tidak membawa kertas dan pulpen saat kajian tadi. Dan ustdzah-nya menyindir, orang besar selalu mencatat apa yang dia peroleh. Mencatat ilmu itu seperti menangkap hewan buruan dan mengikatnya. Hiks. Oke deh Bu, sekarang saya abadikan di blog nih. Kalau kajian lagi, semoga saya bisa mencatatnya di i-pad atau Samsung tab supaya langsung ter-upload ke blog saya hihihihi (maunyaaa….).

Istilah keren

Beberapa hari lalu aku terdampar di ruang rapat sebuah hotel bintang empat di dekat kantor. Ada tugas kantor yang harus dibahas dan diselesaikan di situ. Ada beberapa orang dari unit lain yang diundang.

Karena acara pembahasan baru mulai malam hari, dan seharian aku sudah kecapekan, saat pembahasan aku nggak bisa konsentrasi. Apa yang dibicarakan di forum sama sekali gak bisa kupahami, rasanya buntu sekali, ngantuk dan lelah luar biasa.

Untuk mengusir ngantuk, akhirnya aku mengajak teman sebelah kursiku untuk ngobrol. Awalnya kami menertawai diri kami sendiri yang merasa asing dengan berbagai istilah yang disampaikan oleh peserta rapat. Lalu aku bertanya kepada teman obrolku, apakah beliau sudah membaca buku Laskar Pelangi. Dia jawab belum. Lalu kuceritakan salah satu fragmen di Laskar Pelangi, dimana si Ikal menceritakan tentang masyarakat kampungnya di Belitong yang takjub dengan istilah-istilah baru dari pejabat atau mahasiswa yang berceramah. beberapa masyarakat akan menghitung berapa banyak istilah yang tak dia pahami, dan di akhir pidato, mereka akan membandingkan berapa banyak yang mereka hitung.

Teman obrolku lalu mengambil kertas dan pensil. Dia membuat dua tabel untuk dua pembicara di rapat yang sedang kuikuti. Lalu kami terkikik-kikik di belakang, menuliskan istilah yang nginggris, yang aneh atau keren menurut kami. Ada istilah in-line, drill, smoothing, align, elaborate, performance, resolve, compact, user, launching, dan sebagainya.

Sebenarnya istilah-istilah semacam itu sudah ada padanannya di bahasa Indonesia. Namun ada beberapa motif penggunaan istilah asing itu. Ada yang memang menggunakannya untuk lebih memperjelas maksud yang dia sampaikan, kekhawatiran apabila padanan bahasa Indonesia yang digunakan malah akan membuat rancu atau bias maksudnya.

Tapi ada juga yang menggunakannya karena kebiasaan, ya karena sudah biasa dengan kata itu. Ada juga yang supaya dianggap keren, terpandang, modern, aahh, melangit rasanya ketika mengucapkan istilah asing dengan pronounce yang mendayu hahaha…

Lalu bagaimana dengan pidato para petinggi atau pejabat yang sering menggunakan istilah keren itu…., apa niat mereka ya?

Rasa yang Bercampur

Menyebalkan sekali kalau dalam kondisi terburu-buru harus pulang dari kantor, karena merasa bersalah kepada anak yang ditinggalkan seharian di rumah. Terburu-buru karena boss masih memberikan perintah, sedangkan jam pulang sudah sangat mepet. Terburu-buru karena anak sulung sudah berpesan agar si bunda pulang cepat, tidak pulang dini hari seperti hari-hari sebelumnya…

Terbayang kan bagaimana suasana hati si bunda? Grusa grusu, bingung karena pekerjaan belum selesai, sebel karena suami belum jemput, kesel karena boss meminta supaya tetap tinggal untuk lembur, sedih karena tidak bisa menuruti keinginan anak yang sederhana. Keinginan untuk melihat bundanya sudah di rumah saat adzan isya tiba, walaupun mungkin saat itu si anak juga tidak diajak bermain atau mengobrol, bahkan bundanya sudah teler banget, karena sudah berhari-hari tidurnya kurang. Hmm…, terbayangkah perasaannya yang nano-nano itu?

** Gabruk, itu gue banget versi dramatisasi wkwkwkwk… What about U?**

Dan setelah mengambil napas dalam dan panjang…, mengemasi tas dan cooler bag, kabur dari pandangan boss, cemberut kepada suami yang tidak segera datang menjemput, berlalulah aku naik motor membonceng suami menuju ke rumah. Baru saja aku berlalu, perasaan yang nano-nano tadi tiba-tiba berbalik menjadi perasaan nano-nano yang rasanya lain… (Lah, kalau udah nano-nano bukannya cuman satu rasa yak? Wkwkwk…).

Kalau tadi perasaan kesal dan sebal mendominasi, sekarang ganti perasaan sedih, terenyuh, kasihan, dan apatis bercampur menjadi satu.

Itulah perasaanku ketika tiap sore melewati jalan Veteran seberang Stasiun Juanda, jalan depan/samping Masjid Istiqlal.

Ketika hari hujan, maka hatiku pun terasa gerimis dan seperti tertusuk-tusuk…

Di bawah fly over rel kereta, di depan masjid Istiqlal, hampir setiap sore aku melihat ibu-ibu menggendong bayi atau anak balita menawarkan jasa joki three in one. Ketika gerimis atau angin kencang, ada beberapa ibu yang bertahan menawarkan jasanya dan tidak berteduh, padahal dia menggendong bayi yang masih rapuh. Waaaaaaaah, aku keseeeeel sama si ibu, aku sediiiih sama keadaan miskin yang memaksa si ibu itu, aku kasihaaan sama si bayi, aku putus asaaa dengan keadaan negeri yang jadi tambah parah ini. Aku terenyuh. Aku ingin turun dari motor, memberikan dekapan dan selimut untuk menghangatkan bayi-bayi kecil itu. Tapi suamiku terus melaju karena bibirku kelu, karena hanya air mata yang terus menerus keluar tanpa ada tindakan.

Dan aku takut, Allah akan mengazabku di hari pembalasan nanti, aku takut dengan perhitungan Allah di Yaumil Hisab nanti. Jangan-jangan karena aku bagian dari pemerintah negeri ini, karena aku bagian dari sistem, aku mendapat bagian dosa karena telah membiarkan kemiskinan terjadi, sehingga banyak rakyat yang harus bersusah payah mencari uang dengan bahkan mengorbankan buah hatinya kehujanan, kepanasan, terkena angin, disewa oleh orang lain yang menjadi joki. Tugas khadimatul ummah untuk menjadi pengayom rakyatnya.

Semoga Allah mengampuni ketidaksanggupanku mengemban amanah ini. Semoga Allah mengampuniku yang masih mengharapkan uang honor, uang ini itu yang menggerogoti apa yang seharusnya jadi hak rakyat yang lebih membutuhkan. Astaghfirullah…

Dan lalu aku teringat anakku di rumah. Dan aku teringat bagaimana aku memarahi, membentaknya. Maafkan bundamu ini ya sayang. Semoga Allah memberikan keluasan ilmu dan kelapangan hati untuk membantumu menjadi manusia seutuhnya. Semoga di saat dan jamanmu nanti, akan hadir manusia seperti Umar bin Khattab atau Umar bin Abdul Aziz. Semoga engkau menjadi salah satu pasukannya. Aamiin…

** yang ini gak dramatisasi, full mewek, sedih sekaligus kesel pada diri sendiri. Semoga membawa perubahan yang lebih baik lagi**

Menulis Apa

Hari ini, satu sahabatku mengingatkan, “ayo, tulisan barunya..”

Ups, aku jadi ingat, begitu banyak ide yang ingin kutulis di blog ini, yang ingin ku-share melalui pensieve pribadiku ini. Bahkan sepanjang jalan menuju ke kantor tadi aku menelurkan dua ide, termasuk kata-kata apa yang akan kususun.

Mumpung sore ini aku longgar, aku coba duduk manis di depan kompie kantorku. Setelah merapikan berkas yang sebulan lebih berserakan di meja dan kursi, lalu mengerjakan disposisi si bos, mulailah aku mencoba menulis.

Lalu…

Eh, lha kok aku bingung mau menulis apa.

Beneran binguuung.. Lupa… Gak ingat sama sekali ide-ide apa yang akan kutulis. Duuuh…

Jadi ya, supaya hari ini tetap ada tulisan terbit, aku menulis ini.. Hehehe..

So, apa tips supaya tetap dapat mengingat ide, alur cerita yang hendak ditulis? Nulis di HP? Walah, kelamaan ngetiknya kalau di HP. Keburu nyut-nyutan jempolku…

Post Navigation